Seperti Malam Sebelumnya

Oleh: Winona

Seperti malam-malam sebelumnya.

Maghrib ini akan kututup dengan sejumput doa singkat untukmu yang kuterbangkan menuju Tuhan

Seperti malam-malam sebelumnya.

Aku akan mati-matian mengeluarkanmu yang gemar berlari di pikiran, menendang-nendang perasaan, dan meluluhlantakkan konsentrasi lain.

Seperti malam-malam sebelumnya.

Kamu akan duduk disana sambil memandangi waktu.

Seperti malam-malam sebelumnya.

Berbagai macam lirik mengaliri kupingku yang suaranya seperti bisikanmu.

Malam-malam di genggamanku tak lebih dari gulungan hitam pekat yang menyakitkan. Saking hitamnya, gerlingan bintang pun tak mampu tertangkap retina. Ia berhasil menghapus semua cahaya dan kehangatan. Gelap dan dingin. Kadang sesuatu berbunyi lalu menyapa, namun ternyata hanya bayanganmu yang semu.

Ah, malam tidak akan semengerikan ini jika yang kau peluk itu adalah aku, bukan istrimu,

Belajar Lupa

Oleh: Ratna W. Anggraini

02 Agustus 2009

Kita sepakat bahwa hari ini, kita tetapkan sebagai hari kali pertama kita berkawan. Aku, kamu, dia dan mereka. Sehingga telah tercipta kata kita di bawah undang-undang pertemanan yang telah disepakati bersama. Atas nama kekeluargaan dan kebersamaan, pertemanan itu ada. Terjalin dan berpilin-pilin hingga ke sudut yang paling tersudut. Mengakar sampai ke sel-sel otak. Mengikrarkan sebuah janji di depan tembok lusuh belakang sekolah. Tembok yang kita coret-coret dengan berbagai warna cat. Bergambar sebuah gedung bewarna biru, dengan deretan manusia putih abu-abu yang tertawa lepas di depannya. Aku ingat betul, itu tugas pertama yang diberikan kepada kita setelah melangkah melewati gerbang besi bewarna coklat yang bersebut gerbang sekolah menengah atas. Yap, berdalih kreasi tanpa batas dengan beragam emosi kebahagiaan, kita disilakan menuangkan sejuta ide pada kanvas berbentuk tembok sekolah yang telah dibagi-bagi entah berapa meter bagian. Sepetak tembok milik kita. Hingga berakhir kata kita itulah yang membuat sepetak tembok menerima takdirnya dengan cat penuh kisah. Itulah awal dari kisah kita. K-I-T-A.

23 Desember 2009

Sebungkus tepung mendarat sempurna di tubuhmu. Rambutmu berubah seputih uban pak satpam penjaga gerbang sekolah. Tak ada suasana ramai selain di kelas kita. Kelas yang letaknya di ujung paling belakang, diapit parkiran sepeda dan kantin sekolah. Berseberangan dengan lapangan basket yang berlatarkan tembok kenangan yang kita bangun. Nyaris sempurna. Sudah pukul setengah empat sore. Para penghuni sekolah hampir semua telah kembali ke rumahnya. Hanya menyisahkan beberapa yang mengikuti kegiatan tambahan. Dan tentu saja kita. Hari ini kamu ulang tahun. Kebahagiaan atau kekanak-kanakan yang masih melekat di jiwa kita, mengantarkanmu menjadi bulan-bulanan penghuni kelas. Tepung, telur, dan guyuran air yang didapat dari kran di halaman kelas sempurna membuatmu amburadul. Kuucapkan selamat ulang tahun untukmu. Inilah kita, segerombolan anak yang masih penuh canda sebelum mengerti kata dewasa.

 

10 Januari 2010

Satu semester sudah hampir usai. Aku, kamu dan dia pun sudah terlanjur dekat. Mencoba mengenal apa itu yang disebut Friendship. Seperti sore ini. Selepas sekolah, aku, kamu dan dia tak langsung pulang karena harus latihan basket. Aku dan kamu punya hobi yang sama. Mungkin itu yang membuat kita lebih dekat. Sedangkan dia … mungkin karena dia selalu ada untuk aku dan kamu, sehingga kita menjadi dekat. Saat aku dan kamu mulai saling melempar bola berwarna oranye itu, dia yang duduk di tepi lapangan akan dengan sangat antusias berteriak-teriak menyemangati kita. Dan pada akhirnya, aku dan kamu mendapatkan masing-masing sebotol air segar selepas pertandinga usai darinya.

22 Februari 2010

Dua bungkus kado kutemukan tergeletak tak berdaya di laci mejaku. Aku tahu itu pasti darimu dan darinya. Aku tak ingin membukanya. Biar saja. Karena dua hari sebelumnya, ternyata kalian sedang berdrama. Tak mau bersapa denganku. Kebiasaan yang masih tersisa dari masa sekolah menengah pertama. Ah, aku sadar bahwa kita memang masih kekanak-kanakan. Tapi percayalah, kadang kekanak-kanakan itu menyenangkan.

07 Maret 2010

Sekarang giliran dia yang berulang tahun. Aku dan kamu sudah tak ingin berdrama. Sekotak kue kita bawa bersama menuju rumahnya. Beberapa lilin telah kita siapkan untuk dia tiup setelah dia mengucapkan permohonan pada Tuhan. Biar mirip drama-drama yang sempat kita lihat di layar kaca. Gaya anak muda merayakan ulang tahunnya. Meski yang sebenarnya terjadi adalah kita merayakan sebuah pengurangan angka yang tak pernah bisa ditawar. Kita tahu benar itu, setelah mendengar ceramah guru agama di sekolah.

14 November 2011

Sudah berapa hari kita berkawan? Entahlah. Apa kita harus selalu menghitungnya. Seperti yang kita lakukan sore ini. Menghitung semut yang sedang berbaris karena hukuman terlambat datang di klub pramuka. Untung saja bukan hukuman menerjemahkan morse. Kau tahu kan, meski sudah hampir dua tahun aku bergabung bersama klub pramuka, tak pernah bisa kuhafal sandi-sandi itu. titik dan garis yang membingungkan. Tapi aku berjanji padamu, Sebelum tahun ini berakhir, akan kupastikan aku bisa menghafalnya. Tahun depan kita akan berkemah. Hanya sekadar jaga-jaga, bila kita tak seregu, lalu kamu dan dia terpisah dariku, kita akan bisa saling menemukan. Setidaknya, di situlah sandi-sandi itu akan berguna untukku.

31 Desember 2011

Kita berjanji akan berkumpul di rumahku. Membuat sebuah pesta kecil dengan alat panggang dan sekilo ikan asin, ah, maksudku ikan patin. Dan beberapa jagung untuk dibakar. Tahun baru 2012 akan datang. Itu artinya tahun terakhir kita di sekolah menengah atas. Tembok kenangan yang sudah berlumut itu, akan menjadi saksi pertemanan kita di gedung yang penuh putih abu-abu.

05 Mei 2012

Ujian akan segera tiba. Di lapangan basket kita berjanji bertemu, untuk sekadar latihan terakhir bersama. Memantul-mantulkan bola sembarangan, memasukkannya ke ring secara bergantian. Kemudian melepas lelah di atas lapangan merah itu. Hanya aku, kamu dan dia. Kemudian kita mulai sebuah pembicaraan. Mencoba merancang masa depan dengan tema “setelah lulus nanti”. Aku bilang, aku ingin kuliah. Entah darimana nanti biayanya, pokoknya aku mau kuliah. Aku suka belajar. Aku ingin mengajar. Kemudian dia bilang, dia tidak akan kuliah. Dia hanya akan bekerja lalu menikah dan punya anak. Sebuah mimpi yang sederhana. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau akan kuliah atau bekerja. Kau jawab bukan keduanya. Aku dan dia jadi bingung. Setelah tersenyum, kau menjelaskan. Kau ingin menjadi seperti ayah dan ibumu. Seseorang yang bisa berjuang di medan perang. Jadi tentara! Itu katamu. Hah, untunglah kau tidak menjawab menjadi patung. Itu sebabnya aku lega. Karena selain basket dan pramuka. Hobimu adalah tidur. Semoga kau tak pernah tertidur saat sedang berperang kelak.

20 juni 2012

Selepas kelulusan, kita mulai sibuk masing-masing. Aku sibuk tes sana-sini. Dia dan kamu juga. Kita sama-sama berjuang meraih mimpi. Sesekali ponsel yang berkabar pada masing-masing. Lebih sering ponsel itu juga menganggur tanpa kabar dari masing-masing. Kita mulai susah membuat janji, hingga harus sering menyalahkan waktu yang berdetak dan jarak yang menjarak. Tapi aku tak pernah lupa pada setiap inci kenangan yang selalu mendekatkan kita meski jauh. Aku bersyukur, Tuhan masih percaya kita untuk terus menjaga persahabatan ini menjadi lebih indah. Tuhan telah takdirkan aku, kamu dan dia untuk bertemu. Karena kita telah sepakat tak kan pernah percaya pada kebetulan. Setiap kita dan setiap sentimentil hidup kita adalah takdir. Sebuah takdir yang indah yang tak pernah kita ketahui kapan dia akan berawal dan kapan dia akan berakhir.

16 Maret 2013

Yey, akhirnya kita bertemu kembali. Disaksikan dengan dua cangkir kopi dan segelas coklat hangat, kita mencoba bernostalgia. Menceritakan berbagai kisah yang sempat tertelan waktu. Tawa, canda, emosi, dan senyum bercampur dengan aroma kopi coklat malam ini. Bulan depan sepertinya sedikit longgar. Aku yang sudah tak sekota dengan kamu dan dia mencoba membuat perencaan untuk liburan kita. 6 Juni 2013 menjadi tanggal yang kita tetapkan untuk berlibur bersama. Kamu yang memilih tanggal itu. Katamu itu tanggal yang indah … 6.6 dan 2+0+1+3 adalah 6. Tiga angka enam berjajar, angka yang unik katamu.. Entahlah, aku dan dia hanya bisa mengiyakan agar kamu bahagia.

04 Juni 2013

Pukul delapan malam. Ponselku berdiring. Kulihat di layarnya, itu sebuah panggilan dari dia. Segera kupencet tombol hijau dan memulai pembicaraa, “Hai, apa kau sudah rindu padaku, tenanglah besok aku akan pulang. Aku tak mungkin lupa janji kita tentang lusa” kemudian suara dia yang di ujung sana menghentikan celotehku. Dia menghentikan celotehku dengan beberapa kalimat yang membuat aliran darahku berdetak. Dia mengabarkan bahwa lusa tak akan pernah ada lagi untuk kita. Itu judul yang pilu dan menyayat telingaku yang mendengarnya. Dia kabarkan bahwa kamu tak akan membersamai kita lagi. Sebuah kecelakaan telah terjadi dan merenggutmu dari kita. Air mataku tak bisa lagi terbendung. Bagaimana mungkin ini terjadi. Bukankah kamu sudah berjanji, bahwa lusa kita akan bertemu? Nyatanya kamu mengingkarinya dengan berdalih bahwa takdir telah memutuskan. Takdir membawa berita tentang kematianmu.

05 Juni 2013

Ragaku sudah berpindah. Kini aku, kamu dan dia sudah di kota yang sama. Hanya saja dunia kita berbeda. Kamu tidur di hadapanku dan dia tanpa bisa bangun lagi. Berselimutkan kain jarik coklat, dan aku hanya bisa memandangmu. Air mataku sudah kering. Kelopak mataku terlanjur mengembang untukmu. Apa yang telah kamu lakukan pada kita. Bisakah sekali ini saja kamu mengembalikan janji kita. Setidaknya berpamitlah sebelum kamu pergi. Mungkin inilah kali pertama aku merasakan sakit yang tak bisa terdefinisikan. Sekarang apa yang bisa kulakukan dengan dia tanpa kamu. Kita berkurang satu.

11 Juni 2013

Aku dan dia menjengukmu. Sekantung doa dan kembang tujuh rupa telah kuletakkan di pusaramu. Tempat kamu berbaring dan entahlah, apa yang kau lakukan di sana. Kau tahu, bahkan dia masih menangisi kepergianmu. Katanya, pernikahannya kelak tak kan meriah jika hanya aku saja yang datang. Apa kau bisa membuatnya tak menangis lagi? Aku bingung, dia menjadi cengeng sejak kamu pergi.

04 Agustus 2014

Sudah setahun lebih. Aku dan dia juga begini begitu saja. Aku semakin sibuk dengan duniaku menekuri buku-buku. Dia juga sibuk dengan pekerjaannya. Dia sudah hampir membuka tokonya sendiri. Sebenarnya, dia ingin aku dan kamu menjadi pelanggan pertamanya. Tapi itu hanya mimpi, kau tahu jelas itu. Hanya aku yang akan datang sendiri ke tokonya. Sejak dulu dia sudah pandai menjahit. Kau ingat kan, sebelum acara 666 itu, dia telah membuat pakaian seragam untuk kita pakai. Ah, sudahlah … mungkin kenangan itu harus kita ingat sesekali saja atau akan lebih menyakitkan jika diulang-ulang.

13 Maret 2015

Aku sudah semakin bingung mau menulis apa lagi padamu. Rasanya tak perlu kutulis, kamu akan tahu apa yang aku dan dia lakukan dari atas sana. Sudah ya … selamat menikmati cerita dari atas.

23 Desember 2015

Hai … aku datang lagi. Ini hari ulang tahunmu. Aku menelpon dia untuk mengingatkan. Ternyata dia juga masih ingat. Aku dan dia akan datang ke tempatmu. Tentu saja dengan bunga-bunga yang akan menjagamu. Tunggu saja di sana. Jangan kemana-mana. Selamat ….

13 Juni 2016

Dia mengabarkan kepadaku. Dia telah bertemu seseorang untuk diajak ke pelaminan. Mengarungi sebuah bahtera bersama. Dan aku … aku akan menuntaskan ujian-ujian terakhirku, agar segera bisa menyusul kisahnya. Ah, tidak. Aku akan belajar dan mengajar dulu. Oh Tuhan, aku bahagia mendengar kabar darinya. Kamu yang di sana, juga kan? Salah satu dari kita akan segera mengakhiri masa lajangnya. Ini kabar bahagia!

 

29 Agustus 2016

Takdir mendatangiku kembali. Dia yang selama ini kita kenal ceria syalala terlihat tanpa beban. Kau tahu, dia telah membohongi kita hal yang sangat besar. Hari ini aku menemuinya di sebuah ruang penuh alat dan bau obat-obatan. Ruangan yang sangat kubenci. Dia sedang tidur di atas ranjang pasien saat aku datang. Calon pengantin kita sedang lemah. Tuan berjaket putih yang gemar membawa stateskop mengabarkan padaku. Sebuah kalimat yang tak ingin kudengar. Aku benci. Dia terkena kanker. Kau dengar aku? Dia terkena kanker. Tuan berjaket putih itu menambahkan “stadium akhir” di akhir kalimatnya. Hah. Puas kalian? Kau dan dia berhasil menguak kembali rasa sakit yang sedang belajar untuk kulupakan. Takdir. Aku memohon pada Tuhan untuk mengulur, agar takdir untuk kehilangan tidak datang terlalu cepat.

24 September 2016

Selamat … di tengah apa yang telah dia rasakan. Calon pengantin sangat menyanyanginya. Menerima dia dalam kondisi apapun. Kita harus bahagia dengan itu. jangan tunjukkan kesedihan di hadapannya. Hari ini dia menikah. Ijab qabul dilakukan di ruangan penuh aroma obat. Aku tak tega melihatnya. Ini hari bahagianya. Kau tahu kan, aku harus kuat. Mencoba menghibur diri sendiri adalah perbuatan paling konyol.

28 September 2016

Aku terpaksa meninggalkannya dan kembali ke perantauan. Tapi kamu pasti tahu kan dari atas sana, aku tak pernah benar-benar meninggalkannya. Aku dan dia masih terus berkirim kabar. Mendengar suaranya di telingaku, mampu mengobati rindu-rindu yang menggebu. Dia akan menjalani pemeriksaan lagi hari ini. Kanker sialan. Apa dia akan Kau ambil juga dariku? Takdir. Kita sepakat untuk tidak pernah percaya pada kebetulan. Menerima takdir dengan hati yang lapang itu membahagiakan. Itu katamu.

01 Oktober 2016

Sekali lagi. Aku menyesal tak ada di detik-detik terakhir kalian. Hari ini kabar tentang kematian mendatangiku lagi. Aku harus bagaimana? Kamu dan dia terlalu tega untuk meninggalkanku sendiri. Aku tak pernah bisa belajar lupa. Semakin aku belajar tentang lupa, semakin aku mengingat lebih tajam. Bagaimana ini? Aku ingin belajar lupa tentang kabar sebuah truk yang telah membuatmu pergi dariku. Di jalan aku melihat truk besar yang melaju kencang, aku ingat kamu. Di jalan, beberapa kali aku melihat kecelakaan, aku ingat kamu. Di ruangan beraroma obat, aku ingat dia. Di saat bertemu para pejuang kanker, aku ingat dia. Aku tak pernah benar-benar lupa kejadian-kejadian itu. Ketika aku belajar lupa, aku takut. Aku takut kenangan tentang kita akan ikut terlupakan juga. Lalu aku harus bagaimana?

18 November 2016

Aku masih menulis. Tulisan ini bahkan masih tentang kamu dan tentang dia. Kamu dan dia yang telah menjadi kepingan puzzle kisah hidupku. Aku sadar, aku belum bisa belajar lupa dengan baik. Delapan belas November, tiga tahun seratus enam puluh tujuh hari kamu pergi dan berhenti menulis kisah tentang kita. Bahkan dia … tak kusangka, ini sudah 49 hari dia berhenti menulis dan mengabarkan dirinya padaku. Biar saja, aku tak akan pernah lagi belajar tentang lupa. Biar saja otak ini terus mengingat. Sampai waktuku tiba. Hai kamu, bagaimana denganmu, bagaimana keadaanmu sekarang. Sudahkah kau bertemu dengan dia di sana? Semoga suatu saat, akan ada kita lagi. Entah di dimensi mana. Biar saja waktu yang terus mengekal, memberikan kita jalan menuju takdir. Sekarang kita berkurang dua. Dan hanya menyisahkan aku.

Hukum Sebab Akibat

Oleh: Ria Filosophia

Langit ini bertepi

Apa harus kau mendindingi tepiannya?

Bumi ini bersuara

Apa harus kau menjadi bayangan suaranya?

Surya ini bersahabat dengan dingin

Apa harus kau menggenggam panasnya?

 

Kenapa kausuka mencekau suasana semesta?

Semesta tak menyukaimu

Semesta ingin menyakalmu

Atmamu ada di ujung taring pembinasa

Masihkah kau tersenyum legit?

Semesta ingin menggigit kebahagianmu

 

Hatimu sudah tak memenuhi syarat

Kenapa kausaji di piringan saturnus?

Kaupikir semesta akan mengecupmu?

Tahanan tak akan mungkin jadi dewa

Mimpimu sudah jadi abu

Angin membawanya menuju perapian lagi

 

Sesalmu tak merombak hati alam

Dulu kau jadikan semesta budak

Kausebar duri di antara tubuhnya

Kaukoyak hati terpentingnya

Menggadaikan sukmanya untuk menyumbat gigimu

Agar tetap terbuka lebar mulutmu

 

Semestapun enggan menyentuhmu

Kau bangkai paling busuk dan berbau

MENDAYU

Oleh: Merlia Na

Telah terurai suara bercak yang tersedak

Dibendung sunyi semakin ke sini

Derap kaki berkali-kali menepi

Usai angin melewati dingin

 

Adalah kisah seorang anak

Terungkap sudah jeritan otak

Terkikis sendu wajah merayu

Berlari dari guratan palsu

 

Mendesak diri ke mana pergi

Seakan hilang bersama malam

Mengirim kabar dan tersiar

Melebihi sandiwara kerajaan

 

Mendayu bersamamu

Melihat purnama di batas senja

Apakah bisa?

Lalu dituanglah susu dan madu

Agar awak tak usah  terlalu sendu

Menyingkap rindu yang telah lampau

Mendayu merdu memanah waktu

Hanya tetes pilu menghalau risau

Biarkan berlalu

Berjalanlah pada jalanmu

 

Mendayu tak menentu

Berharap pagi segera kembali

Menemui jalan pada kehidupan

Menjadi pahlawan yang elegant

 

Karena pengorbanan begitu aman

Ketika rayuan tak berpengharapan

Hanya Tuhan yang menentukan

Segala rapal doa yang tersampaikan

 

Maka tersenyumlah dengan lebar

Wahai anak yang terdengar

Lebih kencang segala keinginan

Kemuliaan menjadi harapan

 

Wajah keriput selalu ada

Pada doa-doa yang tergiring

Senantiasa kau kunjung

Mendayu bakti sampai ke hati

Merapikan kehidupan

Ponorogo, 11 Nopember 2016

Tertikam Tisu yang Semu

Oleh: D.A Pitaloka

Kali ini aku mendapatimu tertegun, sendiri

Merangkak dari kenangan satu ke kenangan lain

Merajah kelebat berat yang bertumbuhan di dada tanpa rongga

Seruaknya berdesak berebut ruang, lalu menyesak membuahkan berbongkah isak

 

Jangan jatuh pada yang tidak cinta,

Tapi cintalah pada yang jatuh

Jatuh hati padamu yang lugu

Tapi, tubuhmu bergeming

 

Lalu semu yang katamu menjelma tisu

Mengusap lukamu

Tapi ia tisu

Yang kemudian menikammu, membungkuskan dirinya demi menutupi belati

 

Ada luka di hatimu karena tisu

Lantas kamu memintaku mengobatinya bersama semu

Ternyata semu tak jauh beda dengan tisu

Mereka menikammu bersama: Tisu dan semu.

 

Merea bekerjasama.

Semu menggiringmu untuk merasakan

Bahwa sepi dapat membunuh dan menikammu

Lalu tisu akan bergerak menutupi lantas memperparah bekas tikaman di dirimu.

 

Tisu menghilang.

Selama ini ia tak pernah benar-benar ada.

Ia hanya ciptaan halusinasi agar kamu tak merasa kesakitan. Sendirian.

Hakikatnya tisu adalah bagian dari semu. Sama-sama mematikan.

Lelaki Si Baju Hijau Tua

Oleh: Alsinalla

Ada merah yang menyala dalam bara

Melahap kayu melindungi si baju hijau tua

Kali ini mereka takkan pernah lupa

Masa-masa perjuangan di medan laga

 

Lelaki itu cepat berlari dan merapat

Lempar pandangnya nun jauh di ujung satu tempat

Seratus Sembilan puluh empat jam mereka menembak dengan tepat

Biarpun gerak pohon tak karuan sebab mangsa yang melompat-lompat

 

Dari ribuan pasukan berani mati hanya Qodir yang masih hidup

‘Apa rahasiamu sampai kau masih hidup saat ini, Dir?’ Tanya lelaki tua yang mirip dengannya

‘Siapa kau berani menanyakan hal itu padaku?’

‘Ooh… Kau tak tahu siapa aku? Sudahlah Dir, matilah seperti semua orang itu. Kapanpun, kau takkan pernah mendapat pemakaman layak seperti mereka. Berhenti berharap dan merasa dirimu adalah pahlawan’

‘Aku mengenalimu, aku mengenali suaramu! Dengar baik-baik, aku takkan mati sampai negeri ini makmur seperti cita-cita kami dahulu. Aku tak perduli mereka menganggapku sebagai pahlawan atau lelaki tua tak berharga. Aku hanya ingin pergi dengan tenang tanpa membawa hutang ini pada mereka. Bagaimana kalau mereka menagihnya, hah? Kenapa kau diam saja? Jawab!!!’

Ia takkan menemukan jawaban dari cermin yang memantulkan wajahnya sendiri.

Sahabat Seperti Apakah Kamu?

Oleh: Ihdina Sabili

Anak muda zaman sekarang kalo nggak punya temen hangout yang asik belom dianggap anak gaul, kalo belum pernah jelajahin mall-mall glamour di ibukota nggak dicap remaja masa kini, kalo belom nge-geng, tentang-tenteng gadget elite, kalo kalian belum itu semua bakal dibilang cupu plus ketinggalan jaman.

Makanya nggak heran kalo temen nge-drug ikutan ngedar, nggak kaget kalo sahabat ngobat ikutan nge-fly, ujung-ujungnya ngeringkuk dibalik jeruji besi juga berjamaah. Giliran ada temen mau tobat malah diketawain abis-abisan, di-bully sepanjang jalan, dan kalo si doi nggak kuat iman maka gagallah usaha tobat dia.

Bagi kalangan remaja dan muda belia, teman memang faktor utama dalam mengarungi hidup, mencari jati diri, hingga menentukan tujuan hidup. Padahal sejatinya, yang memahami diri sendiri ya hanya dia sendiri, orangtua, dan keluarganya. Sudah banyak sekali fakta dan berita anak muda mengalami kesuraman hidup akibat pergaulan yang salah, tidak hanya bebas, akan tetapi juga dibebaskan oleh orangtuanya, dan juga membebaskan diri.

Kelihatannya mungkin teman adalah orang yang paling setia dengan kita, orang yang paling ngertiin kita, orang yang selalu ada buat kita, dan orang yang seiya sekata dengan kita. Ah, itu semua palsu, sejatinya teman atau sahabat adalah cerminan diri kita. Bahkan ulama dulu sudah menitahkan bahwa “Jika ingin mengetahui tentang diri seseorang, jangan bertanya langsung padanya, akan tetapi bertanyalah pada temannya, cari tahu siapa temannya, dan bagaimana karakternya, karena teman adalah cerminan diri seseorang”.

Dari gambaran di atas coba kita uraikan beberapa kriteria sahabat sesuai empat elemen, keempat elemen yang membentuk seorang avatar menjadi sebuah sosok keseimbangan alam dan dunia. itulah yang diceritakan dalam sebuah serial kartun “The Last Air Branded, Legend of Ang, Avatar”.

Kata siapa empat elemen tersebut tidak bisa dimaknakan dalam kehidupan nyata, lihatlah empat kriteria di bawah ini, lalu definisikan, sahabat seperti apa dirimu bagi sahabat-sahabat dekatmu, dan sahabat seperti apa yang kamu butuhkan dalam hidupmu.

API
Dalam filosofi elemen avatar, Api adalah luapan-luapan emosi negatif, seperti dendam, marah, dengki, bahkan nafsu syahwat. Jadi, jika dimaknakan dalam persahabatan, sahabat yang seperti api adalah sahabat yang dijauhi, sebaiknya tidak ditemani, karena dia hanya akan memberi sisi negatif dalam diri kita, menumbuhkan dendam dan amarah, iri dan dengki. Selalu ingin merasa lebih baik dari temannya dalam hal apapun, paras, kekayaan, derajat, dan kepintaran. Sebagai teman yang baik, pertama, harus berusaha mengingatkannya, menolongnya dari sifat-sifat buruk tersebut, hal ini jika kita sudah memiliki kekuatan lebih, jika tidak, maka alih-alih akan meluruskannya, yang ada malah kita terjerumus dengan sikap dan sifat buruk mereka, akhirnya malah kita yang tertular sifat-sifat buruk tersebut, maka berhati-hatilah dengan teman yang berelemen api ini.
AIR
Lawan dari api, adalah Air, sebuah upaya dalam rangka mengendalikan api / nafsu dengan menggunakan akal untuk berpikir benar dan salah. Teman dengan karakter air ini mampu mengimbangi kekerasan kepala teman-temannya, kehadirannya mampu mendinginkan pertentangan yang terjadi diantara teman-temannya. Dalam beberapa masalah, ia menjadi penengah dan pereda dari pertengkaran teman-temannya. Teman yang seperti ini biasanya memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi karena cenderung mengarahkan teman-temannya. Selain itu, ia juga cocok dijadikan sebagai tempat curhat para sahabatnya, berkat kepiawaiannya memberikan solusi untuk permasalahan-permasalahan yang muncul. Akan tetapi air juga memiliki sisi kurang baik, dia cenderung menguasai, jika pada beberapa kondisi dia dianggap sangat dibutuhkan, maka dia akan selalu memosisikan dirinya sebagai yang paling berkuasa di antara teman-temannya.

UDARA (ANGIN)

Seperti halnya ke-Ego-an. Terkadang ketika kita sudah menemukan kebenaran dan kita harus melaksanakannya, di tengah perjalanan kita tidak konsisten dan lalai dari tujuan awal. Sahabat dengan karakter seperti ini yang belakangan banyak ditemukan. Bahasa kerennya, mereka adalah remaja labil, mereka yang gampang terbawa arus, teman yang seperti ini gampang sekali terbawa arus, terbawa lingkungan dimana dia tumbuh, jika kebanyakan temannya mengambil A, maka dia akan ikut-ikutan mengambil A, jika sahabatnya jalan dia ikutan jalan, sahabatnya nonton dia ikutan, sahabatnya pacaran dia ikutan. Sahabat yang seperti ini patut diwaspadai, karena jika kita tidak bisa mengarahkannya, menjadi yang dia panuti, maka kita yang akan terbawa arusnya, kita yang akan mengikuti gaya hidupnya, meniru semua tingkah laku dan perilaku sehari-harinya.
BUMI

Inilah simbol dari ketenangan, kesabaran dan ketegasan. Karakter yang terakhir ini memiliki sifat dan sikap yang tenang, dia seringkali menempati posisi sebagai ibu bagi teman-temannya, mengayomi, yang paling sabar, juga memiliki ketegasan. Sahabat dengan karakter bumi lebih sering jadi ‘tong sampah’ curhatan teman-temannya tentang apapun. Selain itu, sikap suka mengalah yang dimilikinya membuat ia jarang mengemukakan keinginannya, karena ia lebih mementingkan kebutuhan dan keinginan temannya, sikap ini membuat siapapun yang bersahabat denganya merasa nyaman dan tenang. Karakter ini juga beberapa kali disebut dengan istilah karakter tanah, sahabat dengan karakter ini mampu memposisikan dirinya dimanapun, dengan teman yang pendiam dia mampu menjadi pengisi kekosongan, dengan teman yang periang dia mampu mengimbangi dengan kewibawaannya, dan dengan teman yang pergaulannya luas dia juga mampu menjangkau mereka.
Dari keempat elemen diatas coba selidiki, sahabat seperti apakah kamu dan sebaiknya sahabat seperti apa yang harus kamu cari untuk melengkapi dan mengimbangi sifat dan karaktermu. Karena sesuai pepatah arab juga, bertemanlah dengan pedagang minyak wangi, maka kamu akan tercium aroma wangi, dan jangan berteman dengan tukang besi, karena akan tercium aroma kurang sedapnya.